Rabu, 16 Juni 2010

Mengapa Jantung Terus Berdetak?

sebelum orang dilahirkan, jantungnya sudah dapat berdetak dan akan demikian seterusnya selama orang itu hidupJika kita hitung jantung orang berdetak 60 kali setiap menit, maka jantung seorang kakek berusia 80 tahun telah berdetak kira-kira 2.400 juta kali.

Jantung kita dapat secara terus menerus berdetak karena bentukannya berbeda denganorgan tubuh lainnya. Di dalam jantung terdapat seperangkat jaringan khusus yang masing-masing disebut benjol serambi jantung (nodus sinoatrialis), benjol telinga bilik-jantung (nodus auriculoventricularis), dan ikatan HIS. Ikatan HIS terbagi menjadi banyak cabang kecil yang berbentuk menyerupai jala, meliputi bagian dalam otot bilik jantung sebelah kiri dan kanan. Jaringan khusus itu memiliki keunikan tertentu yang dapat dengan otomatis memberi isyarat dan menimbulkan eksitasi pada otot jantung dan dengan begitu menyebabkan jantung berdetak.

Pernah seorang ilmuwan membius seekor anjing kecil dan kemudian mengeluarkan jantungnya, lalu menuangkan zat cair yang hangat dan banyak mengandung oksigen ke dalam pembuluh nadi tajuk jantungnya supaya otot jantungnya mendapat zat gizi. Ternyata dengan eksperimen seperti itu, jantung anjing kecil tersebut dapat terus berdetak sampai beberapa jam lamanya.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa detak jantung ditimbulkan oleh jantung itu sendiri dan jelas bukan bersandar kepada bagian tubuh lainnya yang manapun. Demikian juga halnya dengan jantung manusia. Karena kerja jantung tidak dipengaruhi oleh bagian tubuh yang lain, maka jantung akan terus berdetak. Kalau begitu, apakah aktivitas jantung sama sekali tidak berhubungan dengan sistem saraf?

Tentulah ada dan bahkan tidak sedikit hubungannya. Titik debar jantung membangkitkan impuls dengan irama tetap. Akan tetapi, suatu saat jantung berdetak lebih cepat atau lebih lambat. Cepat atau lambatnya detak jantung ini semuanya tergantung pada pengaturan dari sistem saraf. Sistem saraf yang berhubungan dengan jantung adalah saraf kelana (nervus vagus) dan saraf simpatik (nervus sympathicus).
Suatu rangsangan pada saraf kelana dapat menyebabkan titik debar mengalami inhibisi dan menjadikan jumlah detakan jantung berkurang. Sedangkan rangsangan pada saraf simpatik dapat menyebabkan jantung berdetak lebih cepat. Oleh karena itu, pada waktu tidur, detak jantung selalu agak lambat, sedangkan pada saat emosi, jantung seseorang berada dalam keadaan eksitasi atau sedang bekerja berat dan detak jantung menjadi lebihcepat.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

LATEST NEWS